KONSEP, TEORI, DAN PENERAPAN EVALUASI KURIKULUM

Posted: Maret 20, 2012 in Kurikulum

 

A.      PENDAHULUAN

Evaluasi dan kurikulum merupakan 2 disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Ada pihak yang berpendapat antara keduanya tidak ada hubungan, tetapi ada pihak lain yang menyatakan keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Hubungan tersebut merupakan hubungan sebab akibat. Perubahan dalam kurikulum berpengaruh pada evaluasi kurikulum, sebaliknya perubahan evaluasi akan memberi warna pada pelaksanaan kurikulum. Hubungan antara evaluasi dengan kurikulum bersifat organis dan prosesnya berlangsung secara evolusioner.

Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Kurikulum juga dirancang dari tahap perencanaan, organisasi kemudian pelaksanaan dan akhirnya monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan mengetahui bagaimana kondisi kurikulum tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya.

Evaluasi kurikulum penting untuk dilaksanakan. Evaluasi kurikulum dapat menyajikan informasi mengenai kesesuaian, efektifitas dan efisiensi  kurikulum tersebut terhadap tujuan yang ingin dicapai dan penggunaan sumber daya, yang mana informasi ini sangat berguna sebagai bahan pembuat keputusan  apakah kurikulum tersebut masih dijalankan tetapi perlu revisi atau kurikulum tersebut harus diganti dengan kurikulum yang baru. Evaluasi kurikulum juga penting dilakukan dalam rangka  penyesuaian dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan pasar yang berubah.

B.       KONSEP DAN TEORI EVALUASI KURIKULUM

Evaluasi kurikulum adalah penelitian yang sistematik tentang manfaat, kesesuaian efektifitas dan efisiensi dari kurikulum yang diterapkan. Atau evaluasi kurikulum adalah proses penerapan prosedur ilmiah untuk mengumpulkan data yang valid dan reliable untuk membuat keputusan tentang kurikulum yang sedang berjalan atau telah dijalankan.

Evaluasi kurikulum mencakup keseluruhan kurikulum atau masing-masing komponen kurikulum seperti tujuan, isi, atau metode pembelajaran yang ada dalam kurikulum tersebut. Secara sederhana evaluasi kurikulum dapat disamakan dengan penelitian karena evaluasi kurikulum menggunakan penelitian yang sistematik, menerapkan prosedur ilmiah dan metode penelitian. Perbedaan antara evaluasi dan penelitian terletak pada tujuannya. Evaluasi bertujuan untuk menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk bahan penentuan keputusan mengenai kurikulum, apakah akan direvisi atau diganti. Sedangkan penelitian memiliki tujuan yang lebih luas dari evaluasi yaitu menggumpulkan, menganalisis dan menyajikan data untuk menguji teori atau membuat teori baru.

Evaluasi kurikulum dapat menyajikan bahan informasi mengenai area – area kelemahan kurikulum sehingga dari hasil evaluasi dapat dilakukan proses perbaikan menuju yang lebih baik. Evaluasi ini dikenal dengan evaluasi formatif. Evaluasi ini biasanya dilakukan waktu proses berjalan. Evaluasi kurikulum juga dapat  menilai kebaikan kurikulum apakah kurikulum tersebut masih tetap dilaksanakan atau tidak, yang dikenal evaluasi sumatif.

Adapun tujuan diadakan evaluasi kurikulum mencakup 2 hal, yaitu evaluasi digunakan untuk menilai efektifitas program, dan evaluasi digunakan sebagai alat bantu dalam pelaksanaan kurikulum (pembelajaran).

Evaluasi kurikulum sukar di rumuskan secara tegas hal itu disebabkan beberapa faktor, yaitu:

1.    Evaluasi kurikulum berkenaan dengan fenomena-fenomena yang terus berubah

2.    Objek evaluasi kurikulum adalah sesuatu yang berubah-ubah sesuai dengan konsep yang digunakan

3.    Evaluasi kurikulum merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh manusia yang sifatnya juga berubah.

R.a becher,seorang ahli pendidikan dari Universitas Sussex Inggris menyatakan tiap program pengembangan kurikulum mempunyai style dan karakteristik tertentu, dan evaluasi dari program tersebut akan memperhatikan style dan karakteristik yang sama pula. Seorang evaluator akan menyusun program evaluasi kurikulum sesuai dengan style dan karakteristik yang dikembangkannya.

Luas atau sempitnya suatu suatu program evaluasi kurikulum sebenarnya ditentukan oleh tujuannya. Doll ( 1976 ) mengemukakan syarat-syarat suatu program evaluasi kurikulum yaitu suatu evaluasi kurikulum harus mempunyai nilai dan penilaiannya mempunyai tujuan atau sasaran yang jelas, bersifat menyeluruh dan terus menerus, serta berfungsi diagnostik dan terintegrasi. Evaluasi kurikulum juga bervariasi, bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus evaluasi. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah kuantitas dan kualitas.

Kita tahu bahwa kurikulum merupakan daerah studi intelek yang cukup luas. Banyak teori tentang kurikulum, beberapa teori menekankan pada rencana, yang lainnya pada inovasi pada dasar-dasar filosofis dan pada konsep-konsep yang diambil dari ilmu prilaku manusia. Secara sederhana kurikulum dapat diklasifikasikan atas teori -teori yang lebih menekankan pada isi kurikulum, pada situasi pendidikan serta pada organisasi kurikulum.

1.    Penekanan kepada isi kurikulum

Strategi pengembangan yang menekankan isi merupakan yang paling lama dan banyak dipakai, tetapi juga terus mendapat penyempurnaan atau pembaharuan. Sebab-sebab yang mendorong pembaharuan ini bermacam-macam :

a)         Karena didorong oleh tuntutan untuk menguatkan kembali nilai-nilai moral dan budaya dari masyarakat

b)        Karena perubahan dasar filosofis tentang struktur pengetahuan

c)         Karena adanya tuntutan bahwa kurikulum harus lebih berorientasi pada pekerjaan

2.    Penekanan pada situasi pendidikan

Tipe kurikulum ini lebih menekankan pada masalah dimana, bersifat khusus, sangat memperhatikan dan disesuaikan dengan lingkungannya, seperti kurikulum kelompok masyarakat nelayan, kurikulum daerah pesisir dll. Tujuanya adalah menghasilkan kurikulum yang benar-benar merefleksikan dunia dari kehidupan dari lingkungan anak. Sifat lain tipe ini adalah kurang atau tidak menekan kepada spesifikasi dan organisasi lebih menunjukan fleksibelitas dalam interpretasi dan pelaksanaanya. Pengetahuan dianggap bersifat relatif terhadap situasi-situasi yang khusus sesuai dengan kondisi setempat. Kurikulum ini ruang lingkupnya sempit

3.     Penekanan pada organisasi

Tipe kurikulum ini sangat menekankan pada proses belajar mengajar. Meskipun dengan berbagai perbedaan dan disana-sini ada pertentangan. Menurut Bruner dan Jean Piageat, keduanya sangat mempengaruhi perkembangan kurikulum tipe ini (pengajaran berprogram, pengajaran modul, pengajaran dengan bantuan komputer) perbedaanya sangat jelas antara kurikulum yang menekankan organisasi dengan yang menekankan isi, dan situasi adalah memberikan perhatian yang sangat besar kepada peserta didik. Anak menurut Bruner merupakan hasil yang sangat kompleks. Biologi dan sosial harus berpartisipasi secara aktif dalam lingkungan belajar, menguasai bahasa dan menguasai kemampuan-kemampuan kognitif.

Konsep kurikulum yang menekankan isi, memberikan peranan besar pada analisis pengetahuan baru yang ada. Konsep penilaian menutut penilaian secara rinci tentang lingkungan belajar sedangkan konsep organisasi memberi perhatian besar pada struktur belajar.

Pengembangan kurikulum yang menekankan isi membutuhkan waktu mempersiapkan situasi belajar dan menyatukannya dengan tujuan pengajaran yang cukup lama. Kurikulum yang menekankan pada situasi, waktu untuk mempersiapkannya lebih pendek. Sedangkan kurikulum yang menekankan pada organisasi waktu persiapannya hampir sama dengan kurikulum yang menekankan pada isi. Namun kurikulum yang menekankan organisasi, strategi penyebarannya sangat mengutamakan latihan guru.

Model evaluasi berkaitan dengan teori kurikulum. Adapun perbedaan konsep dan strategi pengembangan dan penyebaran kurikulum menimbulkan perbedaan dalam rancangan evaluasi. Model evaluasi yang bersifat komporatif atau menekankan pada objek sangat sesuai bagi kurikulum yang bersifat rasional dan menekankan isi. Dalam kurikulum yang menekankan situasi sukar disusun evaluasi yang bersifat kompratif karena konteksnya bukan terhadap guru atau satu tujuan tetapi terdapat banyak tujuan.

Fokus evaluasi kurikulum dapat dilakukan pada outcome dari kurikulum tersebut (outcomes based evaluation) dan juga dapat pada komponen kurikulum tersebut (intrinsic evaluation). Outcomes based evaluation merupakan fokus evaluasi kurikulum yang paling sering dilakukan. Pertanyaan yang muncul pada jenis evaluasi ini adalah “apakah kurikulum telah mencapai tujuan yang harus dicapainya?” dan “bagaimanakah pengaruh kurikulum terhadap suatu pencapaian yang diinginkan?”. Sedangkan fokus evaluasi intrinsic evaluation seperti evaluasi sarana prasarana penunjang kurikulum, evaluasi sumber daya manusia untuk menunjang kurikulum dan karakteristik mahasiswa yang menjalankan kurikulum tersebut.

C.      PENERAPAN EVALUASI KURIKULUM

Dalam makalah ini penulis menyoroti 2 masalah yang agak berbeda, yakni masalah pelaksanaan UAS dan masalah dimasukkannya mata pelajaran PTD dalam kurikulum yang diintegrasikan dengan mata pelajaran TIK.

Hampir tidak ada orang yang menolak bahwa diselenggarakannya suatu sistem pendidikan adalah dapat dihasilkannya manusia terdidik yang dewasa secara intelektual, moral, kepribadian, dan kemampuan. Namun yang sering disoroti orang seperti yang akhir-akhir ini berlangsung adalah dimensi penguasaan pengetahuan peserta didik yang belum tentu berdampak kepada pengembangan kemampuan intelektual, kematangan pribadi, kematangan moral dan karakter. Keyakinan profesional dan akademik bahwa sistem evaluasi yang diterapkan akan menentukan keberhasilan kita mencapai tujuan pendidikan nasional. Evaluasi pendidikan yang berupa evaluasi hasil belajar yang dilakukan pada akhir jenjang satuan pendidikan seperti UAN (Ujian Akhir Nasional) tidak dapat diharapkan dapat berdampak terhadap efektifitas tercapainya tujuan pendidikan nasional. Tidak lain karena menurut hasil penelitian Benyamin Bloom tingkah laku belajar peserta didik akan dipengaruhi oleh perkiraan peserta didik tentang apa yang akan diujikan. Dengan demikian kalau yang akan diujikan adalah penguasaan pengetahuan yang telah dihafal, dengan sendirinya peserta didik hanya akan belajar menguasai materi yang akan diujikan. Akibatnya peserta didik akan mengabaikan berbagai kegiatan belajar yang tidak akan diujikan, seperti belajar meneliti, belajar menulis makalah, belajar mengapresiasi karya sastra, belajar berdemokrasi dan berbagai proses belajar yang bermakna transformasi budaya. Agar peserta didik sejak memasuki suatu jenjang pendidikan secara terus menerus dan intensif melakukan proses pembelajaran yang bermakna bagi tercapainya berbagai tujuan pendidikan, perlu dikembangkan dan dilaksanakan evaluasi secara komprehensif, terus menerus dan obyektif. Evaluasi yang demikian hanya dapat dilakukan oleh seorang guru yang profesional yang mampu merencanakan, mengelola, memotivasi, dan menilai proses pembelajaran yang berlangsung dari hari ke hari. Evaluasi semacam ini hakekatnya merupakan bagian dari kurikulum itu sendiri, yang berfungsi sebagai bagian dari strategi penguatan “reinforcement strategy” atau dalam bahasa teknis kurikulum disebut sebagai salah satu wujud dari “hidden curriculum”. Masalah evaluasi semacam inilah yang perlu dilaksanakan dalam suatu pendidikan yang mendudukkan “classroom as social system (Parson), dan sekolah sebagai pusat sosialisasi/pembudayaan berbagai kemampuan, nilai, dan sikap (Inkoles). Model evaluasi yang merupakan bagian dari strategi pembelajaran ini dari sudut pandang teori belajar sosial (social learning theory) akan dapat menumbuhkan sikap dan kemampuan yang diharapkan, seperti etos kerja yang tinggi, disiplin, belajar secara terus menerus, dan yang sukar untuk dikembangkan melalui model evaluasi hasil belajar yang tradisional yang dilakukan pada akhir satuan jenjang atau kelas seperti “ulangan umum” pada akhir semester dan hasilnya, tanpa dipengaruhi hasil dan kegiatan belajar harian dimasukkan ke dalam rapot atau Ujian Akhir Nasional (UAN) yang dilakukan pada akhir jenjang pendidikan dan hasilnya menentukan kelulusan seseorang. Model terakhir ini dari sudut pandang teori belajar sosial, dampak negatifnya lebih banyak daripada dampak positifnya. Untuk kepentingan pengelolaan pendidikan secara nasional disadari perlunya secara periodic diadakan evaluasi hasil belajar tingkat nasional atau lebih tepat disebut “Nasional Assesment”. Fungsinya sebagai bagian dari manajemen pendidikan secara nasional adalah untuk memperoleh gambaran tentang peta mutu pendidikan nasional sebagai alat umpan balik guna mendiagnosis faktor-faktor penyebab dari keberhasilan dan ketidakberhasilan suatu sekolah atau daerah dalam membantu peserta didik dalam mencapai tingkatan hasil belajar yang diharapkan. Kegiatan semacam ini sangat penting dan bermakna bila dimanfaatkan untuk melakukan tindak lanjut berupa upaya perbaikan, pembaharuan, dan berbagai kegiatan untuk meratakan mutu pendidikan nasional sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kedua model evaluasi yang diuraikan dalam makalah ini adalah yang secara langsung terkait dengan kurikulum dan proses pembelajaran. Disamping itu kita mengenal dua lainnya, jenis evaluasi konteks, dan evaluasi masukan yang secara menyeluruh perlu dilakukan dalam proses pengambilan keputusan pendidikan.

Kurikulum yang dirancang dan dilaksanakan sesuai dengan kaidah kependidikan yang secara akademik dan profesional dapat dipertanggungjawabkan dengan didukung oleh penerapan model evaluasi yang relevan dengan tujuan pendidikan, hanya akan secara efisien dan efektif mendukung terlaksananya fungsi pendidikan sebagai proses pembudayaan dan tercapainya tujuan pendidikan, bila dilaksanakan oleh guru yang memiliki kemampuan profesional. Jabatan profesional sebagai yang secara universal diakui adalah jabatan yang memerlukan pendidikan lanjutan dan pelatihan khusus (advanced education and special training). Tidak lain karena jabatan profesional adalah jabatan yang memerlukan kemampuan merencanakan, kemampuan mengelola, kemampuan mengendalikan, kemampuan memonitor, kemampuan menilai, dan kemampuan mendiagnosis. Untuk guru yang berderajat profesional disamping kemampuan-kemampuan tersebut, diperlukan tambahan kemampuan memberikan bimbingan dan kepemimpinan yang didasarkan atas pemahamannya atas peserta didik, penguasaannya atas ilmu pengetahuan sebagai bahan ajar, dan teknologi pendidikan (didaktik, metodik, dan paedagogik).

Teknologi  merupakan  konsep  yang  sangat  luas,         kompleks, dan komprehensif. Teknologi  mencakup  baik  teknologi  modern  maupun teknologi tradisional serta berhubungan dengan perubahan sosial dan budaya masyarakat. Webber  (1997)  menyatakan  bahwa  teknologi  adalah  berbagai hal  yang  berkaitan  dengan  perancangan,  pembuatan/konstruksi  dan penggunaan peralatan benda kerja sebagai pembantu pemecahannya.

Dalam       Standards  for  technological  Literacy (ITEA, 2000) dinyatakan bahwa  teknologi  merujuk  pada  bagaimana  manusia  memodifikasi  alam sesuai  dengan  kebutuhan  dan  maksudnya. Pada  jaman  Yunani  kuno, seni atau  keterampilan  dan  melek  teknologi  berarti  membuat  atau  terampil bertindak. Tetapi  secara  umum  teknologi  meliputi  bermacam-macam kumpulan  proses  dan  pengetahuan  yang  digunakan  oleh  manusia  untuk mengembangkan  kemampuannya  dalam  memuaskan  keinginan  dan kebutuhan manusia.

Iskandar  Alisyahbana  (Sukmadinata, 1997)  menyatakan  bahwa  teknologi adalah cara melalukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan  alat  dan  akal  (hardware  dan  software)  sehingga  teknologi  seakan-akan  memperpanjang, memperkuat, atau  membuat  lebih    ampuh  anggota tubuh, pancaindera dan otak manusia.

Berdasarkan  pada  definisi  tersebut, PTD merupakan  suatu  mata  pelajaran yang  berorientasi  pada  sains  dan  teknologi  dengan  siswa  mempunyai kesempatan  untuk  mendiskusikan  isu-isu  teknologi  dan  masyarakat. Disamping itu siswa juga belajar memahami dan menangani alat-alat teknologi dan  menghasilkan  atau  membuat  peralatan  teknologi  sederhana  melalui aktivitas  riil  mendisain  dan  membuat. Dengan  demikian  siswa  mempunyai kesempatan  untuk  mengenal  dunia  teknologi  dan  memperoleh  pengetahuan teknologi  dan  ketrampilan  secara  efektif  dan  efisien.

PTD dapat meningkatkan  sikap  positif  para  siswa  terhadap  teknologi  dan mempersiapkan mereka untuk menuju masyarakat teknologi. Menurut  definisi  yang  dikemukakan  oleh International Technology Education  Association (2001) Pendidikan  teknologi  adalah  suatu pembelajaran tentang teknologi yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk  belajar  tentang  proses  dan  pengetahuan  yang  berhubungan  dengan teknologi  yang  diperlukan  untuk  memecahkan  masalah  dan  memperluas kemampuan manusia.

Sejak  beberapa  tahun  terakhir  Departemen  Pendidikan Nasional  mengupayakan berbagai bentuk inovasi pendidikan untuk meningkatkan kualitas proses dan capaian belajar. Inovasi-inovasi tersebut  antara lain dikembangkannya Pendidikan Teknologi Dasar  (PTD) yang  juga  disebut‘Basic  Technology  Education’(BTE)  sejak  tahun 1997, pengembangan Kurikulum  Berbasis  Kompetensi sejak  tahun  1999 yang menghasilkan  Kurikulum  2006, dan  pendekatan  pembelajaran ‘Contextual Teaching and Learning’ (CTL) sejak tahun 2000. Inovasi-inovasi  tersebut  merupakan  langkah-langkah  positif  dalam  rangka peningkatan  mutu  pendidikan  Indonesia. Namun  demikian, perlu  dicermati  apakah inovasi-inovasi  tersebut  bersifat  komplementer  atau  tumpang  tindih.  Misalnya, dengan  diberlakukannya  Kurikulum  2006 yang  dikembangkan  dengan  basis kompetensi  dengan  pendekatan  pembelajaran  kontekstual, apakah  PTD masih relevan.  Kajian  sekilas  menunjukkan  bahwa  materi  PTD sebagian  sudah  tercakup dalam  mata  pelajaran  Matematika, IPA, dan  Pengetahuan  Sosial. Secara  prinsip, materi-materi PTD yang belum tercakup dapat ditambahkan/diintegrasikan ke dalam mata  pelajaran-mata  pelajaran  tersebut. Selain  itu, secara  teoritis  apabila  CTL diterapkan  dengan  baik  maka  sebagian  kecakapan  hidup-kecakapan  hidup  yang hendak dikembangkan oleh PTD (antara lain kecakapan berfikir, personal, sosial, dan akademik)  dapat  dikembangkan  melalui  pembelajaran  berbagai  mata  pelajaran. Di samping  itu, mata  pelajaran  Teknologi  Informasi  dan  Komunikasi  (TI  dan  K)  dan Ketrampilan  telah  mewadahi  PTD. Dengan  demikian, apabila  kajian sekilas  tersebut  benar, pengembangan  PTD merupakan  inovasi  pendidikan  yang tumpang  tindih  yang  dapat  mengakibatkan  pemborosan  (inefisiensi).

D.      KESIMPULAN

Evaluasi kurikulum memegang perenan penting baik dalam penetuan kebijaksanaan pendidikan pada umumnya,maupun pada pengambilan keputusan dalam kurikulum. Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang kebjaksanaan pendidikan dan para pemegang kurikulum dalam memilih dan menetapkan kebjaksanaan pengembangan system pendidikan dan pengembanagan model kurikulum yang digunakan. Hasil-hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan pleh guru-guru,kepala sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya,dalam memahami dan membantu perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran,memilih metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Nasution . 1991 . Pengembangan Kurikulum . Citra Adtya Bakti : Bandung.

Murray Print . 1993 . Curriculum Development and design. Allen & Unwin Pty Ltd 9 Atchison Street, St Leonards, NSW 2065 Australia.

Kementrian Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama. 2010. Sejarah Perkembangan Kurikulum SMP.______.

Hilda Taba. 1962 . Curriculum Development ( Theory and Practice ). Sanfransisco: State College, Harcourt, Brace & World, INC.

Soedijarto. 2004. Kurikulum, Sistem Evaluasi, dan Tenaga Pendidikan sebagai Unsur Strategis dalam Penyelenggaraan Sistem Pengajaran Nasional. Jurnal Pendidikan Penabur: Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s